Archives

gravatar

Perdebatan sebuah kata JANCOK!?

Setiap daerah tentunya mempunyai sebuah ciri yang khas. Mulai dari rumah adat, pakaian adat, makanan bahkan tentunya juga bahasa. Yup, inilah salah satu kehebatan Indonesia yang tidak banyak dipunyai negara lain. Sebuah keanekaragaman inilah yang malah bisa menjadi sebuah keUnikan tersendiri. Tapi sayang, jarang orang yang membanggakan keanekaragaman ini. Hanya bisa bangga dengan daerahnya masing-masing dan mencibir atau bahkan menertawakan adat daerah lain!?
Disini saya akan coba membahas tentang bahasa yang tentunya sangat banyak sekali perbedaan di setiap daerah di Indonesia tercinta ini. Misalnya di Ibukota Negara, Jakarta, terenal dengan bahasa gaulnya yang mungkin malah menjadi boomerang buat mereka. Kenapa?? Sudah jelas dan nggak bisa dipungkiri kalau setiap orang di daerah lain dengar bahasa gaul, mereka malah ngomong kalau itu bahasa orang "sok-sokan" atau "gaya-gaya'an". Bukankah begitu teman-teman??
Kalau di daerah jawa barat kata ANJINK itu adalah sebuah kata kotor, tapi di daerah lain saya rasa nggak seberapa 'ngefek' alias biasa saja soalnya mereka menginterpretasikan dengan maksud yang berbeda. Nah, kalau di Kota Pahlawan ini beda lagi. Disini malah banyak kata-kata "kreatif" yang muncul dan nggak bisa dipungkiri lagi kalau menjadi sebuah kontroversi di jagat Indonesia. Saya contohkan misalnya kata MATAMU PICEK, JANCOK, GATEL dan banyak lagi. Tentu kalian yang pernah ke Kota Buaya ini nggak akan bisa mengelak kalau kalian pernah mendengar kata-kata di atas. Ya khan??
Bagi saya, orang asli SUROBOYO. Kata-kata itu sangat biasa bagi saya dan mungkin biasa juga bagi berjuta-juta rakyat surabaya. Tapi, kenapa banyak orang mempermasalahkan hal ini.. kenapa?? Saya bangga punya kata-kata khas seperti JANCOK ini yang mungkin bisa membuat getar orang lain. Saya rasa kata ini bisa membuat ketegasan saat kita berbicara dengan lawan bicara kita sesama orang surabaya. Tapi kalau bukan orang surabaya dan nggak tau kebiasaan kita tentang kata-kata ini justru akan menjadi sebuah kesalahpahaman bahkan bisa terjadi perang sodara.
Huhft.. Kenapa sih kalian nggakbisa menghargai kita para orang surabaya yang dengan kreatif banyak menciptakan kata-kata special ini!? Kenapaaa.. Kalau kalian memang nggak suka dengan kata-kata kita, okelaah.. tapi jangan musuhi kami dan melarang kami mengeluarkan kata-kata 'cantik' tersebut!? pleeease... kalau kalian iri dengan kami, silakan buat kata-kata kalian sendiri yang menurut kalian bisa kalian banggakan, jangan mencemooh kami!? okey kawan-kawan..
Intinya, Selama JANCOK tidak menyakiti orang lain, maka NO PROBLEMO.

Selengkapnya...
gravatar

Sejarah Persebaya

Persebaya didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada 18 Juni1927. Pada awal berdirinya, Persebaya bernama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Pada saat itu di Surabaya juga ada klub bernama Sorabaiasche Voebal Bond (SVB), bonden (klub) ini berdiri pada tahun 1910 dan pemainnya adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.

Pada tanggal 19 April 1930, SIVB bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung (sekarang Persib Bandung), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. SIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh M. Pamoedji. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. SIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1938 meski kalah dari VIJ Jakarta.

Ketika Belanda kalah dari Jepang pada 1942, prestasi SIVB yang hampir semua pemainnya adalah pemain pribumi dan sebagian kecil keturunan Tionghoa melejit dan kembali mencapai final sebelum dikalahkan oleh Persis Solo. Akhirnya pada tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Pada era ini Persibaja diketuai oleh Dr. Soewandi.

Kala itu, Persibaja berhasil meraih gelar juara pada tahun 1950, 1951 dan 1952.

Tahun 1960, nama Persibaja dirubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya). Pada era perserikatan ini, prestasi Persebaya juga istimewa. Persebaya adalah salah satu raksasa perserikatan selain PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung maupun Persija Jakarta. Dua kali Persebaya menjadi kampiun pada tahun 1978 dan 1988, dan tujuh kali menduduki peringkat kedua pada tahun 1965, 1967, 1971, 1973, 1977, 1987, dan 1990.

Prestasi gemilang terus terjaga ketika PSSI menyatukan klub Perserikatan dan Galatama dalam kompetisi bertajuk Liga Indonesia sejak 1994. Persebaya merebut gelar juara Liga Indonesia pada tahun 1997. Bahkan Persebaya berhasil mencetak sejarah sebagai tim pertama yang dua kali menjadi juara Liga Indonesia ketika pada tahun 2005 Green Force kembali merebut gelar juara. Kendati berpredikat sebagai tim klasik sarat gelar juara, Green Force juga sempat merasakan pahitnya terdegradasi pada tahun 2002 lalu. Pil pahit yang langsung ditebus dengan gelar gelar juara Divisi I dan Divisi Utama pada dua musim selanjutnya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Persatuan_Sepak_Bola_Surabaya

Selengkapnya...
gravatar

Sejarah Surabaya

Surabaya secara resmi berdiri pada tahun 1293. Tanggal peristiwa yang diambil adalah kemenangan Raden Wijaya, Raja pertama Mojopahit melawan pasukan Cina.

Peranan Surabaya sebagai kota pelabuhan sangat penting sejak lama. Saat itu sungai Kalimas merupakan sungai yang dipenuhi perahu-perahu yang berlayar menuju pelosok Surabaya.

Kota Surabaya juga sangat berkaitan dengan revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak penjajahan Belanda maupun Jepang, rakyat Surabaya (Arek Suroboyo) bertempur habis-habisan untuk merebut kemerdekaan. Puncaknya pada tanggal 10 Nopember 1945, Arek Suroboyo berhasil menduduki Hotel Oranye (sekarang Hotel Mojopahit) yang saat itu menjadi simbol kolonialisme. Karena kegigihannya itu, maka setiap tanggal 10 Nopember, Indonesia memperingatinya sebagai hari Pahlawan.

Bukti sejarah menunjukkan bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, seperti yang tercantum dalam prasasti Trowulan I berangka 1358 M. Dalam prasasti tersebut terungkap bahwa Surabaya (Churabhaya) masih berupa desa ditepian sungai Berantas sebagai salah satu tempat penyeberangan penting sepanjang sungai tersebut.

Surabaya (Churabhaya) juga tercantum dalam pujasastra Negara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca tentang perjalanan pesiar baginda Hayam Wuruk pada tahun 1385 M dalam pupuh XVII (bait ke 5, baris terakhir)

Walaupun bukti tertulis tertua mencantumkan nama Surabaya berangka tahun 1358 M Pprasasti Trowulan) dan 1365 M (Negara Kertagama), para ahli menduga bahwa Surabaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut.

Menurut hipotesis Von Faber, Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara sebagai tempat pemukiman baru bagi prajuritnya yang berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M. Hipotesis yang lain mengatakan bahwa Surabaya dulu bernama Ujung Galuh.

Versi lain mengatakan bahwa nama Surabaya berasal dari cerita tentang perkelahian hidup dan mati Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon setelah mengalahkan tentara Tartar, Raden Wijaya mendirikan sebuah Keraton di Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama karena menguasai ilmu Buaya, Jayengrono makin kuat dan mandiri sehingga mengancam kedaulatan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kekuatan dilakukan dipinggir sungai Kalimas dekat Peneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dan berakhir dengan tragis, karena keduanya meninggal kehabisan tenaga.

Kata “ SURABAYA “ juga sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air, antara tanah dan air. Selain itu dari kata Surabaya juga muncul mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa nama Surabaya muncul setelah terjadinya peperangan antara ikan Sura dan Buaya (Baya)

Supaya tidak menimbulkan kesimpang-siuran dalam masyarakat maka Walikotamdya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya, dijabat oleh Bapak Soeparno, mengeluarkan Surat Keputusan No. 64/WK/75 tentang penetapan hari jadi kota Surabaya. Surat Keputusan tersebut menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai tanggal hari jadi kota Surabaya. Tanggal tersebut ditetapkan atas kesepakatan sekelompok sejarahwan yang dibentuk oleh Pemerintah Kota bahwa nama Surabaya berasal dari kata “Sura ing Bhaya” yang berarti “ Keberanian menghadapi bahaya “ diambil dari babak dikalahkannya pasukan Mongol oleh pasukan Jawa pimpinan Raden Wijaya pada tanggal 31 Mei 1293.

Tentang simbol kota Surabaya yang berupa ikan Sura dan Buaya terdapat banyak sekali cerita. Salah satu yang terkenal tentang pertarungan ikan Sura dan Buaya diceritakan oleh LCR. Breeman seorang pimpinan Nutspaarbank di Surabaya pada tahun 1918.

Masih banyak cerita lain tentang makna dan semangat Surabaya. Semuanya mengilhami pembuatan lambang-lambang Kota Surabaya. Lambang kota Surabaya yang berlaku sampai saat ini ditetapkan oleh DPDRS kota besar Surabaya yang keputusan No. 34/DPRS tanggal 19 Juni 1955 diperkuat dengan Keputusan Presiden R.I No. 193 tahun 1955 tanggal 14 Desember 1956.

Selengkapnya...

ShoutMix chat widget

SMS GRATIS.. monggo caaak!?