Archives

gravatar

Selamat Menikmati 0(nol) derajat celsius!? (part1)

Liburan semester genap memang selalu menjadi momen yang dinanti-nanti para Mahasiswa, sebuah kebebasan mutlak selama kurang lebih dua bulan. Bebas dari kewajiban kuliah pagi yang sering kali menyiksa terutama bagi para senior yang sudah terbiasa kuliah malam, lepas dari tumpukan deadline tugas yang menggunung terutama akhir-akhir perkuliahan (gara-gara sengaja maupun tidak tugas-tugas dari awal tidak dikerjakan secara terstruktur dengan baik), terlepas dari asistensi tugas gambar yang kerap bikin dagdidug karena dosennya galak, lepas dari kegiatan organisasi kampus bagi yang sudah lunas masa kepengurusannya dan banyak lagi lainnya. Tapi tetap ada sebuah rasa yang ganjil ketika berpisah dengan teman-teman yang sudah dianggap Saudara sendiri, satu-satunya cara untuk mengobatinya antara lain adalah dengan mengadakan liburan bersama. Entah itu saling mengunjungi daerah salah satu teman dengan touring misalnya, ataupun dengan janjian untuk keluar ke sebuah tempat wisata.
Nah, liburan semester genap kali ini pun tidak terlepas dari kunjungan ke salah satu tempat ‘wisata’ di Jawa Timur. Gunung Lawu. Walaupun jika disebut sebuah tempat wisata masih kurang tepat, tapi tetap saja bagi ku sebuah tempat yang memberikan sebuah keindahan tersendiri bisa disebut tempat wisata. Bertempat di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, tepatnya di kota Magetan. Sebuah kota yang bersebelahan dengan kota Ngawi, adalah rumah salah satu kawan se-angkatanku (Bayu AK) di kampus yang ‘beruntung’ menjadi seorang Ketua Himpunan (Kahima) tahun kepengurusanku (2008).
Beberapa hari sebelum hari H menuju puncak hargo dumilah (puncak gunung Lawu) Bayu yang memang rumahnya dekat dengan gunung tertinggi nomor dua se-Jatim itu menawarkan untuk berjalan-jalan ke rumahnya dan mampir ke Gunung Lawu. Setelah men-jarkom (jaringan komunikasi dengan memanfaatkan sms, bagi anak ITS) beberapa kawan se-angkatan dan akhirnya (mungkin) terjarkom satu angkatan penuh karena penyebaran jarkom tersebut bagaikan virus yang menyeruak di masa liburan seperti ini. Akhirnya aku sebagai koordinator wilayah daerah yang jauh dari kota Ngawi tersebut mendapatkan tujuh orang termasuk aku untuk berangkat. Dari tujuh orang tersebut enam orang dari angkatanku (aku, anam, alfan, ucup, adit, uncen) dan satu orang junior (tigor). Jarkom persiapan peralatan yang akan dibawapun tidak lupa, antara lain senter, jas hujan, makanan jadi, penutup kepala, jaket tebal, kaos tangan serta kaos kaki. Dan kami pun berkumpul langsung di stasiun gubeng baru pada siang harinya (selasa, 5 Juli 2011) untuk bersiap menaiki kereta ekonomi Sritanjung jurusan Lempuyangan.
Kereta yang seharusnya terjadual pukul 13.10 WIB tak kunjung datang juga, sampai kawan-kawan tidak sabar dan hampir menaiki kereta Gaya baru malam selatan yang memang stasiun awalnya adalah SGU. Setelah dua gerbong terlewati kita pun tak kunjung mendapat banyak bangku kosong sesuai dengan jumlah kita. Setelah menunggu satu setengah jam akhirnya mbak sri(tanjung) datang juga. Dengan sigap para petualang ini pun mencari-cari bangku kosong, dan tidak sia-sia karena ternyata banyak bangku kosong di gerbong paling belakang. Di dalam kereta kelas bawah ini memang banyak sekali asongan atau bahkan kadang malah bisa membuat hiburan tersendiri. Mulai dari penjual kopi susu, tahu goreng, gipang, buku bacaan sampai lewatlah seorang penjual ‘sego temenan’ (nasi beneran) dan ‘sego-segoan’ (nasi palsu) bergantian sahut menyahut. Perjalanan kurang lebih tiga jam tersebut ada beberapa yang sempat tertidur (termasuk aku) dan ada pula yang memang tidak bisa tidur di sebuah perjalanan (misalkan adit). Tak terasa kita sampai di sebuah stasiun yang menurutku termasuk lumayan megah di jagat perkeretaapian Indonesia, stasiun Madiun, kita turun. Jemputan yang dijanjikan Bayu datang agak terlambat dan kami pun mencoba sebuah warung nasi pecel khas madiun yang berada di tepat di seberang jalan dari stasiun tersebut. Hanya aku yang tidak makan waktu itu karena di dalam kereta memang sempat makan nasi pecel juga. Setelah makan dilanjutkan dengan menghampiri warung lain di dekat warung tersebut, yang tak lain adalah warung kopi!? Hehehe19 Setelah beberapa saat pun sebuah mobil tua berwarna merah terlihat disopiri seorang yang kita kenal melintas di depan kita, tak satupun dari kami yang tidak berteriak memanggil seorang kawan tersebut. Dan kita akhirnya menaiki sebuah mobil yangkami juluki ‘Jet star’ karena memang dibelakang mobil ini tertuliskan seperti itu. Kendal – Ngawi, we are coming!!!

Selengkapnya...

ShoutMix chat widget

SMS GRATIS.. monggo caaak!?