Archives

gravatar

Negeri 5 menara HABIS di Blitar!!!

BLITAR, tepatnya di desa kademangan. Blitar bagian selatan. Sebuah desa yang unik menurutku, karena desa masa kecilku ini dibatasi sungai di setiap penjurunya. Dari mulai barat, selatan dan timur dibatasi sungai tangkis dimana sungai tersebut sekitar sepuluh tahun yang lalu sering aku dan teman-teman sekolahku bermain disana. Meskipun tinggi kami hanya lebih dari sejengkal tangan dari permukaan air yang alirannya lumayan deras, tidak menyurutkan keinginan kami bermain-main di sungai tersebut. Bahkan ada beberapa teman ku yang berani berlomba menyeberangi dari satu sisi ke sisi yang lain, bagi yang bisa berenang tentunya. Sedangkan bagian utara berbatasan dengan sungai brantas, sungai terbesar di jawa timur seingatku. Dilengkapi dengan dua lapangan bola rumput yang lumayan besar yang salah satunya adalah lapangan bola SD ku dulu, sebuah masjid jami’ (at-taqwa) dimana aku dulu mengaji dan ingat pernah peringkat tiga lomba adzan disana, terminal kecil tapi dilewati bus antarkota, pasar dimana nenek ku dulu pernah berjualan jajanan pasar serta sebuah kantor polisi dan balai desa tentunya. Lengkap bukan?? Masih pantaskah dinamakan desa kawan.. hehehe19 :D
Kemarin aku baru karantina tim adhoc Musyawarah Besar (Mubes) 4 ITS di lawang. Dari hari kamis lalu, pagi siang malam sengaja kami konsentrasikan pada draft yang memang tugas kami. Dan memang tidak main-main kami rapat kali ini, sampai debat keras dan bahkan ada yang hamper saja baku hantam karena ada yang emosi. Dari 17 belas anak, yang hadir sebanyak 13 anak. Selesai dari karantina rapat tersebut aku langsung meluncur ke Blitar, sudah ku atur sebelumnya memang. Meskipun target selesai rapat pagi sehingga aku bisa sampai di blitar tidak terlalu sore, akhirnya sampai sekitar jam 4 karena ba’da dhuhur baru di akhiri dan dilanjutkan di Surabaya besok senin. Hmm…
Disini aku memang sendiri, tidak ada teman yang mau ku ajak karena aku pulang kembali ke Surabaya besok senin. Artinya melebihi sehari dari hari libur panjang semingggu ini. Sendiri bukan berarti kesepian dong, aku punya banyak teman SD disini sehingga bisa main kerumahnya siapa saja yang masih menetap disini. Misalnya, kemarin malam pun aku keluar dengan salah satu teman SD dulu, angga namanya. Rumahnya dekat dengan sungai batas sebelah selatan. Ba’da isya’ aku kerumahnya, sebelum itu aku berjanjian melalui pesan singkat terlebih dahulu untuk memastikan saat aku kerumahnya dia ada.
Sekitar setengah delapan malam aku kerumahnya ke arah selatan. Di depan rumahnya terdapat sebuah truk berwarna biru tua, tidak kaget juga karena memang bapaknya seorang sopir truk pengangkut telur dari Blitar ke Jakarta. Setelah mengucapkan salam dan masuk menyalami ibu dan adeknya aku dan dia duduk di teras depan. Aku pun ingin mengajaknya keluar, sepemikiran dengan aku dia pun ingin menemaniku ke Blitar kota. Berangkat hanya berdua saja di malam minggu yang lumayan dingin ini aku meminjam jaketnya karena jaket yang ku pakai bermotor adalah jaket himpunan yang tebal sekali sehingga kurang cocok kalau dipakai untuk bersantai menurutku. Pelan-pelan kita menuju alun-alun kota, disana tampak keramaian yang amat sangat. Tidak jauh beda dengan di bungkul Surabaya, bedanya disini tempatnya lebih luas dan pengawasannya aku nilai kurang sekali karena di beberapa sudut saat aku jalan memutari bagian dalamnya terdapat orang ‘minum-minum’. Ckckck, sayang sekali menurutku. Setelah satu putaran aku keluar lagi, apa yang aku cari tidak ku temukan. Apalagi kalau bukan tempat ngopi.. hohoho19 :P
Berputar-putar lagi dengan ZX hitam milik Bapak ku. Dilewatkan ke stadion Blitar, markas PSBI dan PSKB. Ada dua tim di Blitar?? Ya, lagi-lagi aku harus mengucapkan sayang. Hmm.. lanjut kita mencari sebuha warung kopi ataupun lesehan, angga menganjurkan untuk ke kebon rojo. Sebuah kebun mirip kebun bibit kalau di Surabaya tapi tidak ada hewan di dalamnya. Membelokkan stang setir ke salah satu lesehan yang ternyata penjualnya anak desa ku juga. Yang kenal angga, aku sempat teringat tapi sudah lupa namanya. Maklum, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Dengan memesan segelas cappuccino aku dan angga bercerita kasana kemari, saling menanyakan kabar dari teman-teman SD dulu dan kehidupan di masing-masing kota kita. Tidak terasa jam di HP sudah menunjukkan pukul 22.30 dan kita pun pulang dengan pelan-pelan (juga) karena tidak lain adalah rasa dingin yang menerpa.
Sampai dirumahnya angga aku langsung pamit pulang, walupun akhirnya tidak langsung pulang melainkan mampir dahulu ke warnet. Maklum, modem AHA ku tidak berfungsi disini karena tidak ada sinyal sama sekali. Emang bisa dipakai di luar kota?? Ya bisa, kemarin aku membuktikan di kota lawang (malang) bisa dipakai bahkan sinyalnya pun penuh!? Setelah dapat sekitar setengah jam terpaksa pulang karena warnetnya mau tutup. Fiuuuh…
Hari ini sengaja ku pakai untuk memFinishkan novel yang ku pinjam dari salah satu sahabatku, berjudul “Negeri 5 menara” karya Ahmad Fuadi. Yang menceritakan sebuah kehidupan di Pondok Modern Gontor, ku pinjam novel ini tepat seminggu yang lalu dan akhirnya lunas juga membacanya karena memang tidak boleh lama-lama meminjamnya alias antre dengan teman-temannya yang lain.
Sedikit bercerita tentang apa yang ada di dalam novel ini karena menurutku sangat banyak sekali hikmah dan motivasi yang bisa diambil!? Bercerita tentang enam orang sahabat yang dipertemukan di sebuah pondok modern (PM) gontor, Ponorogo Jawa Timur. Berlatar belakang masuk pondok tersebut dengan berbagai macam, mulai si Alif Fikri (pemeran utama) yang dipaksa oleh Ibunya, Raja yang memang setahun sebelumnya telat mendaftar, Baso yang sangat ingin menghafal Al-Qur’an di pondok tersebut, serta Said, Atang dan Dulmajid juga berbeda dari lainnya. Novel ini diangkat dari kehidupan nyata penulis (A. Fuadi) dan menurutku amat sangat menggugah selera belajar (sekali lagi menurutku). Terutama belajar bahasa Arab dan Inggris, kalo aku sih lebih suka ke bahasa Arabnya. Gak salah kalau dalam minggu ini sesekali aku menyeretkan bahasa Arab ke omonganku, meskipun masih terlihat sok-sok’an tapi biarlah orang berkata apa. Dalam novel ini juga diceritakan bahwa si paluku utama awalnya sok-sok’an bahasa arab dan inggris tapi akhirnya lancar jaya!? Hehe.. beberapa kata bahasa Arab yang kuingat adalah man jadda wajada (ini paling banyak dipakai dan memang disini merupakan kata sakti yang berarti ‘siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil’), qum ya akhi (artinya ‘bangun ya saudaraku’), tafadhal (silakan) dan beberapa lainnya. Bagi siapa saja yang belum membacanya, BEST RECOMMENDED deh buat kalian semua, beneraaan!?
Siangnya iseng-iseng muterin desa dan berakhir di tempat cuci motor serta warnet!? Pulang lagi dan benar-benar menghabisi novel di atas. Legaaa… :D special syukron ya ukhti Dwi ndut buat pinjaman novelnya!? 
Dan setiap kali aku pulang ke desa, hal yang tak akan kulupakan adalah nyekar ke kubur kakek dan nenek ku. Sebanyak lima kembang pasti kuhabiskan untuk nyekar. Ini untuk mengingatkanku kepada beliau-beliau yang sudah mendidikku di masa kecil dulu, semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk almarhum kakek dan nenek ku, amiiin ya Allah…
Serta belakangan ini kalau pulang ke blitar selalu menyempatkan diri untuk mampir di warung pojok dekat dengan jembatan sungai brantas yang tak lain adalah batas utara desa ku. Menunya pun tidak lain adalah rawon, hmm rawon disini memang tiada duanya. MANJA, mantab jaya.. hahaha19 Pecel paling enak yang pernah kurasakan pun adalah pecel yang jual di gang belakang rumah ku di desa ini!? Tapi entah orangnya masih jualan apa nggak soalnya belum sempat mampir kesana.. dan kulanjutkan memutari desa ini, mulai lewat terminal di pojok desa sampai kantor pos saat di masa kecilku suka berkirim surat dengan orang tuaku di Surabaya maupun ke rubric majalah Bobo.
Malamnya aku kembali menjalin silaturahmi ke teman SD ku yang lian dengan Angga. Rumahnya di ringinanom, sebuah desa di sebelah selatan desa ku ini. Seperti perjumpaan dengan kawan yang sudah lama sekali tidak bertemu, dia sampai hamper lupa dengan aku!? Hehehe19 memang sudah sekitar 2-3 tahun aku tidak bertemu dengannya, trerakhir adalah reuni SD 2 atau 3 tahun silam, aku juga sudah agak lupa.. hehehe19
Kembali lagi pulang jam sebelas malam, dimana desa ku sudah terlihat seperti desa mati. Sepiii…

Kademangan - BLITAR, 23.40 WIB.


Selengkapnya...

ShoutMix chat widget

SMS GRATIS.. monggo caaak!?