gravatar

PIONER MARINE ICON 2011

Hari ini tanggal 29 April 2001, tidak lama setelah ulang tahun ku kemarin ‘terpaksa’ menjadi pioner Marine Icon 2011 di Pasir Putih Situbondo. “Lumayan” jauh sih, sekitar lima jam naik motor maupun libom dari kota kelahiran ku, Kota Pahlawan. Jadi ya hampir sama kaiak jauhnya ke Blitar tapi jalanannya lebih mencekam karena ‘musuhnya’ bis luar pulau yakni dari maupun yang ke Bali.
Bersama enam orang lainnya yakni Mbah, Cumbet, Dukek, Orkes, Jagal serta dauz naik sebuah panther milik bowel yang bukan lain adalah ketua acara ini. Kita berangkat kemarin kamis sekitar pukul 20.00 WITS dan sampai Besuki yang notabene dekat dengan TKP (hanya 12 menit) sekitar pukul 01.30 WIB. Mampir ke alun-alun Besuki untuk melepas lelah setelah makan malam di alun-alun (juga) Bangil sebelumnya. Next trip sekitar pukul 03.00 WIB menuju POM Bensin terdekat karena aku udah pengen buang ‘ballast’ ( :P ) tapi ternyata setelah aku bangun anak-anak malah udah terlelap beralaskan spanduk vinil dan sebagian ada yang di dalam mobil. Dengan berbingung-bingung ria karena spanduknya cuma cukup untuk empat orang akhirnya ‘mlungker’ di jok depan mobil, fiuuuh..
Setelah jam menujukkan pukul 05.00 WIB sholat kemudian kembali lagi ke dekat alun-alun Besuki untuk menemui tukang sound dan terop, beribet-ribet ria sampai jam tujuh kurang akhirnya melanjutkan perjalanan ke TKP dengan mampir dulu ditengah perjalanan untuk beli sarapan. Sampai di TKP, yakni gedung serbaguna Pasir Putih Situbondo ini kita langsung action. Dari pagi sampai sore mengurusi berbagai hal seperti memastikan ijin tempat penggunaan pantai ka nelayan-nelayan sekitar pantai tersebut, membuat sekat gedung serbaguna dari vinil yang disambung-sambung untuk membedakan tempat acara dengan tempat panitia, memasang umbul-umbul dan baliho, ‘gegeran’ dengan nelayan untuk pemakaian wilayah untuk beach soccer dan lain-lain.. daaan lain-laaaain... hehehe19
Sampai-sampai tadi yang memang hari jumat, harusnya jumatan jadi telat karena gantian mandi alias mbulet ae dewe-dewe. Sehingga ketika kita nyampai ke Masjid terdekat para jamaah udah sampai salam.. huhuhu19 akhirnya tanpa banyak gengsi mampir ke sebuah POM bensin yang dekat dengan masjid tersebut dan berjamaah sholat dhuhur disana. Yang paling lucu (aslie yo seneng-seneng piye ngono) adalah ketika kita mau sholat tuh ada mbak-mbak yang jualan di toko POM bensin yang letaknya sebelahan dengan Mushollanya. Pertama liat dengan anehnya karena kelima laki-laki yang seharusnya jumatan malah sholat di Musholla, langsung tidak lama kemudian cekikikan terus. Sampai kita pas mau balik ki mobil si mbak melihat sekilas ke arah kita dan langsung membalikkan muka dengan lengan menutup wajahnya yang ngguyu cekikikan. Hahaha19 Sebenernya pengen sih nyamperin tuh mbak-mbak, dari jauh cantik siiih.. xixixi19 (guyon reeek.. :P).
Setelah hampir semuanya selesai, akhirnya ada waktu senggang di sorenya untuk sekedar menyalakan sebatang surya dengan tanpa nyambi ‘gotong royong’. Tapiii… api-nya kagak adaaa!!! Huhuhu19 Tanpa pikir panjang, seperti biasanya kalo gak ada api di kampus langsung jalan-jalan muter se-fakultas. Nah, kalo yang ini muter pantai niatnya.. tapi melihat ada sesosok tua di pojokan lokasi gedung serbaguna terlihat sedang mengeluarkan asap dari mulutnya, langsung saja ku samperin dan meminta ijin untuk meminta api kepada beliau. Alhamdulillah, nyala juga ni rokok.. :D
Dan setelah bisa menikmati sebatang surya, saya tertarik dengan bapak tersebut. Beliau adalah seorang nelayan, namanya adalah Pak Yuyun. Ketika saya basa-basi tanya jam berapa beliau berangkat dan pulang melaut, beliau menjawab “berangkatnya jam sembilan malam dan kembali pada waktu subuh.” Ikan yang didapatkan pun bermacam-macam, cuma yang saya ingat hanya ikan kerapu, karena saya cukup penasaran banget dengan rupa dari ikan tersebut!? Hehehe19 Dan ternyata pendapatan dalam mencari ikan pun berbeda-beda tiap bulan, banyak sedikitnya ikan yang didapat berdasarkan kalender. (tapi saya lupa bulan apa saja yang banyak ikan maupun sebaliknya.. :P). Pak yuyun mencari ikan dengan sebuah perahu kecil (seperti perahu wisata daerah sana tetapi lebih kecil, sekitar setengahnya dan penyeimbangnya cuma satu bagian, kanan atau kiri) dengan seorang temannya. Dan jika dapat ikan, nantinya akan dijual di ‘pengepul’ ikan di kota situbondo atau paling dekat di besuki. “Tetapi tidak semua di jual juga, kadang ada beberapa nelayan yang memelihara ikan yang kecil untuk dibesarkan dan kemudian baru dijual”, ujarnya. Setelah ku rasa cukup untuk sekedar ngobrol dengan Pak Yuyun, ku mengucapkan ‘matur suwun’ kepada beliau atas pinjaman apinya. Hmm, walaupun sebentar tapi cukup senang sekali bisa bersosialisasi dengan salah satu penduduk setempat.. :)
Dan sore pun dilanjutkan dengan memFinishkan semuanya, bersih diri sampai dengan menunggu kedatangan bus peserta dan panitia..


ShoutMix chat widget

SMS GRATIS.. monggo caaak!?